MUI Cianjur Gelar PKU Angkatan Ke-IV: Mencetak Ulama dan Menjaga Budaya Lokal

Posted by : redaksi October 27, 2025 Category : Ragam

Inilahmedia.com, Cianjur

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur kembali menggelar Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan ke-IV Tahun 2025, dengan tujuan meningkatkan kualitas kader ulama di Cianjur. Acara ini dihadiri oleh Dr. Dadang Ahmad Fajar, Ketua Program Studi Magister Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN SGD Bandung, sebagai narasumber.


Dalam kesempatan tersebut, Dr. Dadang menekankan pentingnya menjaga budaya lokal pada generasi ulama, khususnya budaya Cianjur yang dikenal dengan ngaos, mamaos, dan maen po. Menurutnya, kyai harus mampu mengaji diri, mengaji rasa, dan mengaji literasi untuk menjadi ulama yang sejati.
Ngaos, mamaos, dan maen po adalah tiga pilar budaya Cianjur yang sarat dengan nilai-nilai agama dan spiritualitas. Ngaos merupakan proses mempelajari dan memahami ajaran agama Islam, mamaos adalah unsur seni yang sarat nilai agama, dan maen po adalah seni bela diri yang dapat menjadi bekal bagi kyai dalam berdakwah.


“Budaya lokal Cianjur ini harus dijaga dan dilestarikan, karena merupakan identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Cianjur,” ujar Dadang yang juga Pengasuh pesantrean Al-Ukhuwah
PKU Angkatan ke-IV Tahun 2025 ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kader ulama di Cianjur dan membuat mereka lebih siap dalam menghadapi tantangan dan kesulitan dalam berdakwah.

Mengenalkan Budaya Lokal pada Generasi Ulama: Ngaos, Mamaos, dan Maen Po

Menurut Abah Dadang (sapaan akrab) menjelaskan bahwa budaya lokal Cianjur, Jawa Barat, yang dikenal dengan istilah “ngaos, mamaos, dan maen po” menjadi perhatian khusus bagi generasi ulama saat ini. Ngaos, mamaos, dan maen po adalah tiga aspek budaya yang sarat dengan nilai-nilai agama dan spiritualitas.


“Ngaos, yang berarti “mengaji”, adalah proses mempelajari dan memahami ajaran agama Islam. Namun, ngaos tidak hanya terbatas pada mempelajari kitab suci, tetapi juga mencakup mempelajari diri sendiri, rasa, dan literasi. Kyai, atau ulama, harus mampu mengaji diri, mengaji rasa, dan mengaji literasi untuk menjadi ulama yang sejati.” Ucapnya.


Ia memaparkan bahwa Mamaos, yang berarti “menyanyi” atau “bernyanyi”, adalah unsur seni yang sarat dengan nilai-nilai agama. Mamaos dapat menjadi media untuk menyampaikan ajaran agama dan nilai-nilai spiritualitas. Kyai harus mampu menggunakan mamaos sebagai sarana untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran agama.
Maen po, yang berarti “bermain” atau “berlatih”, adalah seni bela diri yang dapat menjadi bekal bagi kyai dalam berdakwah. Maen po dapat membantu kyai untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mental, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.


“Dalam konteks ini, mengenalkan budaya lokal pada generasi ulama sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama dan spiritualitas. Ngaos, mamaos, dan maen po dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas ulama dan membuat mereka lebih siap dalam menghadapi tantangan dan kesulitan dalam berdakwah.” Terang Dadang.

Pentingnya Ngaos, Mamaos, dan Maen Po bagi Ulama

Lebih jauh Dadang memaparkan, Ngaos, mamaos, dan maen po memiliki peran penting bagi ulama dalam meningkatkan kualitas dan kemampuan mereka. Ngaos dapat membantu ulama memahami ajaran agama dan meningkatkan kesadaran spiritualitas. Mamaos dapat membantu ulama menyampaikan ajaran agama dan nilai-nilai spiritualitas melalui seni. Maen po dapat membantu ulama meningkatkan kekuatan fisik dan mental, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.


“Dengan demikian, mengenalkan budaya lokal pada generasi ulama sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama dan spiritualitas. Ngaos, mamaos, dan maen po dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas ulama dan membuat mereka lebih siap dalam menghadapi tantangan dan kesulitan dalam berdakwah” pungkasnya*** har

RELATED POSTS